Label:

Cemara Ditebang, 30 Siswa SMA 1 Tapaktuan Kesurupan

Sikitar 30 siswi SMA Negeri 1 Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan, Aceh Rabu (25/5/2011) mendadak kesurupan. 

Mereka tiba-tiba menjerit histeri dan kejang-kejang. Kesurupan massal yang sudah berlangsung berturut-turut sejak Senin (23/5/2011) itu diduga akibat pemotongan dahan pohon cemara di komplek sekolah yang berlokasi di Desa Hilir itu.

Menurut keterangan, kesurupan massal yang menimpa puluhan siswi SMA 1 Tapaktuan itu terjadi sekitar pukul 09.00 WIB ketika para siswi itu sedang mengikuti pejaran pertama. 

Diawali dari salah seorang siswa klas satu yang berteiak histeris layaknya orang kesurupan. Dalam waktu singkat siswi lainpun menyusul kesurupan.

Situasi sekolah yang sedianya hening mendadak gaduh. Para guru dan siswa panik, sehingga proses belajar mengajar di sekolah itu menjadi terhenti. 

Sebagian siswa dan dewan guru berlarian membantu mengangkat korban kesurupan ke kantor dewan guru mengobati dengan berbagai cara termasuk meramu daun-daunan di sekitar sekolah yang dianggap bisa mengusir roh halus yang masuk ke dalam tubuh siswi itu. 

Sementara sebagian lainnya berkumpul di ruangan dan di halaman sekolah bersama-sama membacakan ayat Kursi, Surah Yasin dan rukhyah.

Peristiwa kesurupan itu dengan sekejab tersiar keseantero Kota Tapaktuan, Ibukota Kabupaten Aceh Selatan. 

Sejumlah pejabat termasuk Sekdakab Drs H Harmaini juga terlihat menyaksikan kesurupan massal yang menimpa siswi SMA 1 Tapaktuan yang berlokasi di Desa Hilir Tapaktuan, sekitar 500 meter arah timur kantor bupati.

Meski siswa dan dewan guru telah mendengungkan ayat-ayat suci secara berjamaah, serta mengobati korban dengan bacaan-bacan rukhyat, namun siswi yang jatuh kesurupan semakin bertambah. 

Bahkan pada hari ketiga Rabu kemarin, jumlah siswi yang kesurupan mencapai 30 orang. Peristiwa itu tidak hanya terjadi di ruangan belajar, malahan siswi yang sedang berjalan hendak pulang juga tumbang, menjerit histeri.

Kepala SMA 1 Tapaktuan, Syarifuddin kepada wartawan mengungkapkan, peristiwa kesurupan yang menimpa siswinya itu sudah berlangsung sejak Senin (23/5/2011). 

Peristiwa tersebut diawali dari seorang siswi yang menjerit histeri ketika sedang mengikuti pelajaran jam pertama, yakni sekitar pukul 09.00 WIB. Jeritan histeris minta tolong itu secara beruntun kontak kepada siswi lainnya.

Sebagai upaya untuk mengantisipasi meluasnya insieden itu, siswa dan dewan guru secara bersama-sama mendengungkan ayat –ayat suci. Tapi upaya itu tidak membuahkan hasil, malahan siswa yang keserupanan semakin bertambah. Pada hari pertama korban kesurupan hanya sekitar tujuh orang, hari kedua sekitar 16 orang dan hari ketiga mencapai 30 orang.

Syarifuddin mengakui belum mengetahui penyebab terjadi kesurupan massal di sekolah yang dpimpinnya itu. Tapi ucapan yang keluar dari mulut para sisiwi yang sedang kesurupan tersebut pada umumnya mengatakan mereka kesakitan karena dahan pohon cemara sebagai rumahnya sudah ditebang.

”Sakit…, kenapa diruntuhkan tempat kami berlidung…,”ujar salah seorang guru meniru ucapan siswi yang kesurupan.

Sekdakab Aceh Selatan, Drs H Harmaini M Si dilokasi kepada Serambi, mengatakan, peristiwa kesurupan massal yang menimpa sisiwa itu bukan yang pertama terjadi di daerah itu. Sebelumnya kasus yang sama juga menimpa puluhan siswi SMP 1 Tapaktuan dan MAN Unggul Tapaktuan.

Kesurupan massal itu harus secepatnya dicegah dengan mendatangkan para normal sehubungan akan berlangsungnya ujian semester genap siswa klas satu dan klas dua. “Untuk mencegah terulangnya kembali kasus tersebut harus ditangkan paranormal,”katanya. 

0 komentar:

Poskan Komentar