Label:

Penjara RI Sarang Teroris Bangun Jaringan?


Penelitian lembaga Riset Australia menyebut bahwa penjara di Indonesia menjadi tempat teroris membangun jaringan baru dengan merekrut anggota-anggota baru. Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Patrialis Akbar pun membantah.

"Faktanya mana? Terorisme di mana-mana muncul. Tidak ada itu," kata Patrialis di Istana Presiden, Kamis, 19 Mei 2011.

Menurut Patrialis, para teroris yang ditahan di berbagai lembaga pemasyarakatan justru diberi pemahaman soal cinta bangsa dan sesama warga masyarakat. "Bahwa pengeboman itu bukanlah jihad," tegasnya.

Selain itu, para teroris pun diberi pelajaran bahwa aksi pengeboman itu tak lain adalah pembunuhan dan tindakan kriminal. "Itu sudah kami sampaikan, kok. Pokoknya dengan terus-menerus dan dengan berbagai cara," kata mantan anggota Komisi Hukum DPR ini.

Patrialis menilai penelitian asal Australia itu lebih bersifat provokasi. Jaringan teroris yang baru-baru ini bermunculan, di luar dugaan pemerintah dan tidak saja berasal dari dalam penjara, melainkan dari luar juga.
Namun, Patrialis tidak bisa menunjukkan data berapa mantan napi teroris yang kembali mengulang kejahatannya. "Kalaupun ada, satu dua. Itu manusiawai saja, memang dasar dia begitu mau diapakan?" dia mempertanyakan.

Media Australia, 
theaustralian.com.au, memuat penelitian yang dilakukan Carl Ungerer di Institut Kebijakan Strategis Australia (ASPI). Hasil penelitian ini menyatakan bahwa teroris terus merekrut anggota mereka dari balik sel, mengirimkan uang dari penjara ke penjara, bahkan, mengkoordinasian aksi teror.

Tak hanya itu, hasil penelitian yang berjudul 
Jihad, Radikalisasi, dan Pengalaman Penjara Indonesia itu menunjukkan, para narapidana terorisme juga menjalankan bisnis, menggunakan telepon genggam untuk berkotbah kepada pengikut di luar, dan mendominasi masjid penjara. Kesimpulan ini dihasilkan dari wawancara 30 pelaku teroris yang pernah dipenjara di Indonesia.

0 komentar:

Poskan Komentar