Label:

Menjadi Korban Kekerasan dan Mangsa Seks di Tanah Arab



Kematian Ruyati menyayat harga diri bangsa. Kisah ini menyadarkan bahwa begitu rendahnya penghargaan mereka yang telah bekerja keras di negeri orang. Di tempat bekerja sudah diperlakukan tidak manusiawi dan yang menyedihkan upaya perlindungan dari pemerintah terhadap TKW (Tenaga Kerja Wanita) juga sangat minim.
Kita tidak tahu apa sebabnya Ruyati membunuh nyonya rumahnya. Secara logika, hanya orang yang kurang waras yang melakukan pembunuhan tanpa sebab. Umumnya sudah bukan rahasia umum bahwa di tanah Arab kekerasan berupa aniaya dan pemerkosaan banyak dilakukan oleh tuan-tuan mereka yang kejam. Ini dibuktikan begitu banyak berita tentang TKW hancur badannya dianaiya bahkan tidak sedikit yang mati. Juga dilansir setidaknya tahun 159 TKW punya anak tanpa ayah akibat hasil perkosaan atau melakukan hubungan seksual suka sama suka di antara para pekerja.
Kisah perkosaan di tanah Arab menjadi hal yang umum juga (rape is common) dan dianggap menjadi salah satu kelompok masyarakat yang paling tinggi kekerasan seksualnya. Kalau memperhatikan tulisan Walden Bello “Sexual Prey in the Saudi Jungle” dalam Philippine Daily Inquirer, 25 Januari 2011, maka kita akan menemukan banyak penyebab terjadinya itu. Pertama, tentu faktor kemiskinan dari para wanita ini sehingga upaya melindungi diri dan menyadari hak-haknya sangat minim. Sehingga banyak TKW yang pasrah saja diperlakukan seperti binatang. Kedua, nilai sosial kemasyarakatan yang menekankan dominasi kelaki-lakian yang menyebabkan mereka merasa berhak melakukan apa saja terhadap perempuan. Ketiga, adanya legitimasi “hukum “ untuk menyerang wanita, terutama apabila wanita keluar tanpa memakai kerudung, sehingga ada “geng” penyerang secara seksual karena seolah-olah dilegitimasi.
Bagaimana menolong TKW kita? Di samping mendorong pemerintah RI melakukan langkah konkret dan berupaya lebih keras lagi melindungi TKW, maka kita perlu mendorong TKW yang telah menjadi korban baik aniaya maupun pemerkosaan untuk mengisahkan kisah mereka di media, bahkan kiranya ada penulis yang mau menuliskan kepedihan mereka. Di Filipina, kisah Flor Contemplacion yang dihukum mati di Singapura, bahkan diangkat menjadi film. Sudah waktunya seluruh rakyat Indonesia digugah lewat kisah-kisah tragis mereka sehingga menjadi gerakan solidaritas nasional untuk melindungi TKW yang adalah saudara kita. Jangan sungkan dan merasa tabu bicara kejahatan di tanah Arab yang kita hargai ini. Kasus-kasus pengungkapan aniaya dan pemerkosaan TKW tidak ada kaitannya dengan keluhuran sebuah agama. Manusia manapun bisa lalai dan sudah waktunya kita menyadarkan mereka agar memperlakukan manusia sebagaimana Tuhan melihat manusia.
Mungkin ada juga kisah juragan yang berbaik hati dengan TKW. Itupun patut diangkat dan dijadikan contoh bagi para juragan lainnya. Kita tidak bisa lagi bermental pasrah (nrimo) dan sudah waktunya ini digugat! Kami mau dengar kisah mereka. Mudah-mudahan ada yang mau mengangkat kisah Ruyati dan yang lainnya menjadi buku atau film.


kompasiana.com



0 komentar:

Poskan Komentar