Label:

Refleksi: Jumat Agung dan Paskah, Mengalah untuk Menang


Minggu ini, umat Kristen di seluruh dunia merayakan Jumat Agung dan Paskah. Jumat Agung adalah hari perayaan kematian Yesus di kayu salib, dan Paskah adalah hari Kebangkitan-Nya.
Agama Kristen mengajarkan kematian Yesus adalah bukti kasih Allah pada dunia dan manusia. Kematian Yesus bertujuan untuk menebus dosa dan menyelamatkan manusia dari hukuman kebinasaan abadi. Yesus sendiri, karena patuh dan setia pada rencana Allah, rela dikorbankan dengan cara yang keji; mati di salib. Sebelum kematiannya, Yesus mengalami penderitaan yang dahsyat. Ia dikhianati oleh Yudas dan disangkal oleh Simon Petrus yang adalah murid-murid-Nya. Lalu oleh orang-orang Yahudi dan penguasa Romawi, Ia difitnah, dihina, dicaci, diludahi; pakaiannya dilucuti, mahkota duri dipasang di kepala-Nya, dipaksa berjalan dan memikul kayu salib sampai ke atas bukit sambil dipukuli, lalu dua tangan dan kakinya dipaku di kayu salib dan akhirnya dada-jantungnya ditusuk dengan tombak.
Di satu sisi, sebagai manusia, Yesus berharap agar Ia tidak mengalami penderitaan sedahsyat itu. Maka, malam sebelum ditangkap, di taman Getsemani, Yesus sampai berkata: “Hatiku sangat sedih, seperti mau mati rasanya.” Lalu dalam doa Dia berkata: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Ku-kehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” (Mat. 26: 38-39). Di sini tampak, walaupun Ia menghendaki agar penderitaan itu tidak dialami-Nya, Yesus tetap berserah-pasrah pada kehendak Allah.
Di sisi lain, sebagai sang Ilahi, sebenarnya Yesus sanggup menolak atau mencari cara lain untuk menebus dosa manusia. Ia tentu mampu membinasakan orang-orang yang menangkap dan menyiksa-Nya. Tetapi Ia tidak melakukannya. Yesus “mengalah-pasrah” pada tindakan brutal orang terhadap-Nya. Tetapi, di balik sikap itu, ada kemenangan yang menanti. Setelah kematian, ada kebangkitan, ada Paskah. Paskah atau kebangkitan Yesus memperlihatkan bahwa riwayat manusia tidak hanya berakhir di kematian tetapi ada kebangkitan. Ada kemenangan hidup dari kematian kekal.
Dalam peristiwa Jumat Agung dan Paskah, Yesus “mengalah-pasrah untuk menang”. Ada pelangi setelah badai, taufan dan hujan. Seperti juga Firman Tuhan mengatakan “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka.” (Pkh. 3:11).
Sebagai pengikut Yesus, umat Kristen seharusnya meneladani sikap Yesus. Mengalah-pasrah untuk menang selayaknya menjadi sikap umat Kristen di mana pun berada, khususnya mereka yang sedang mengalami intoleransi, diskriminasi, penghambatan dan penganiayaan oleh pihak yang punya kekuatan dan kekuasaan social-politik. Di dalam menghadapi situasi yang sudah tidak dapat diubah dan tidak ada pilihan lain, maka sikap mengalah dan pasrah pada Allah adalah pilihan yang mulia.
Sikap mengalah-pasrah menunjukkan bahwa umat Kristen setia dan taat pada Tuhan, serta memiliki cinta kasih yang tulus ikhlas. Dengan sikap ini, umat Kristen lalu menjadi berkat atau rahmat, bagi diri sendiri, bagi sesama manusia dan alam semesta serta bagi kemuliaan Allah. Sikap ini menunjukkan kemenangan terhadap dunia yang jahat.
Akan berbeda hasil dan penilaiannya jika sikap yang ditempuh di dalam menghadapi tantangan adalah berkeras hati dan melawan, apalagi dengan kekerasan. Bayangkan apa yang akan terjadi jika ketika Yesus akan ditangkap dan seorang dari antara murid-Nya menghunus pedang dan memotong telinga seorang dari para penangkap itu, dan Yesus membiarkannya atau tidak menenangkan murid-murid-Nya lalu menyembuhkan telinga si korban itu, tetapi sebaliknya Ia melawan dan melakukan kekerasan? Tentu terjadi kerusuhan dan jatuh korban yang lebih banyak. Yesus juga akan dinilai tidak taat pada rencana Allah. Ini tidak benar dan karena itu Ia tidak melakukannya. Yesus mengalah-pasrah dan ketika mengakhiri hidup-Nya di kayu salib, Ia berkata : “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku (Lukas 23:46). Inilah peristiwa Jumat Agung; kematian, yang pada hari ke-tiga diikuti dengan peristiwa: “Jangan takut! Kamu mencari Yesus orang Nazaret, yang disalibkan itu. Ia sudah bangkit.” (Markus 16:6); inilah peristiwa Paskah; kebangkitan.
Tidak sedikit kasus konflik dan kerusuhan antar-manusia dan antar umat beragama terjadi akibat kekerasan hati dan keinginan untuk melawan atau membalas dari orang-orang yang terlibat. Hasilnya adalah semua pihak menjadi korban. Dalam setiap konflik-kerusuhan dengan latar belakang apa pun, sebenarnya tidak ada pihak yang menang. Semuanya kalah. Ini karena, di samping ada korban materi dan bahkan jiwa di kedua pihak, akan terbentuk citra buruk tentang kelompok masyarakat atau agama yang bertikai, dan ini tercatat dalam sejarah mereka.
Sikap keras dan sadis orang-orang Yahudi serta pembiaran dan keberpihakan dari penguasa Romawi dalam peristiwa Yesus tercatat di dalam sejarah di dalam kitab suci. Ini tentu akan terus diingat oleh manusia sepanjang masa sebagai sikap yang jahat. Sebaliknya, sikap Yesus yang mengalah-pasrah dan dengan cinta kasih, rela berkorban untuk mati di kayu salib dicatat dan diingat orang sepanjang masa sebagai sikap yang agung-mulia. Demikian halnya dengan kasus-kasus konflik-kekerasan agama seperti kerusuhan Maluku dan Poso, pembantaian penganut Ahmadiyah di Cikeusik-Banten, GKI Yasmin-Bogor atau HKBP Filadelfia-Bekasi yang telah mengakibatkan banyak korban material dan jiwa, serta citra buruk bagi masyarakat dan pemerintah Indonesia dan tentu agama, yang telah tercatat dalam sejarah dan akan diingat sepanjang masa.
Iman Kristen atau semua agama mengajarkan umatnya untuk menjadi rahmat bagi manusia, alam semesta dan demi kemuliaan Tuhan. Karena itu, yang baik dan benar adalah tugas itu dilakukan bukan dengan kekerasan atau mengukur keberhasilannya dengan kegigihan dan kemenangan walau dengan mengorbankan orang lain, tetapi dengan damai, penuh kasih, setia dan kepasrahan kepada Tuhan; “tetapi janganlah seperti yang Ku-kehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”
Selamat merayakan Jumat Agung dan Paskah dengan semangat “mengalah-pasrah untuk menang. Amin. sumber
Stanley R. Rambitan-Teolog-pemerhati agama dan masyarakat.

0 komentar:

Poskan Komentar