Label:

Ahok: Ikan Salmon di Antara gerombolan Hiu di Lautan


Ahok: Ikan Salmon di Antara gerombolan Hiu di lautan

Basuki Tjahaya Purnama atau lebih dikenal dengan nama Ahok, nama yang sontak menjadi buah bibir ditengah masyarakat Indonesia karena berhasil menjadi Pemenang dalam Pemilihan Gubernur DKI Jakarta yang berpasangan dengan Jokowi. Ahok memang sebuah Fenomena baru dalam blantika Perpolitikan Indonesia,berlatar belakang etnis Tionghoa dan non muslim tapi mampu menjungkalkan petarung-petarung yang sudah punya nama. Etnis ,agama dan latar belakang Ahok tidak berarti lagi ditengah masyarakat pemilih yang mayoritas.
Tak banyak orang yang mengenal Ahok ,karena ia hapir jarang terpublikasi di tengah media masa,Publik tersentak ketiga dia tampil di acara Kick Andy yang menampilkan judul “jangan Panggil aku China” di Metro TV,penampiannya ketika itu mempuat public tersentak karena baru mengetahui bahwasanya ada seorang Bupati di Bangka Belitung Timur yang bermarga Tionghoa dan beragama Islam. Lucunya di Kampung Laskar Pelangi tersebut merupakan basisnya Partai Bulan Bintang (PBB).

Alas an Ahok di depan Andy F Noya kala itu hanya sederhana,menurutnya dewasa ini masyarakat sudah cerdas dalam menentukan Pemimpin,dan masyarakat sudah tahu kepada siapa amanah yang akan mereka berikan. Dengan dasar itulah Ahok memantapkan diri untuk bertarung di Pilkada Babeltim,pertama sekali dalam sejarah Indonesia seorang yang beretnis china ikut bertarung dikancah politik (Bupati) dan berhasil menang.

Ahok dan KIPRAH POLITIK

Basuki T Purnama (BTP) yang akrab dipanggil Ahok lahir di Gantung, desa Laskar Pelangi, Belitung Timur.Ia melanjutkan Sekolah Menengah Atas (SMU) dan perguruan tinggi di Jakarta dengan memilih Fakultas Teknologi Mineral jurusan Teknik Geologi Universitas Trisakti.

Setelah menamatkan pendidikannya dan mendapat gelar Sarjana Teknik Geologi (Insiyur geologi) pada tahun 1989, Basuki pulang kampung–menetap di Belitung dan mendirikan perusahaan CV Panda yang bergerak dibidang kontraktor pertambangan PT Timah.

Menggeluti dunia kontraktor selama dua tahun, Basuki menyadari betul hal ini tidak akan mampu mewujudkan visi pembangunan yang ia miliki, karena untuk menjadi pengelolah mineral selain diperlukan modal (investor) juga dibutuhkan manajemen yang profesional.

Sebagai pengusaha di tahun 1995 ia mengalami sendiri pahitnya berhadapan dengan politik dan birokrasi yang korup. Pabriknya ditutup karena ia melawan kesewenang-wenangan pejabat. Sempat terpikir olehnya untuk hijrah dari Indonesia ke luar negeri, tetapi keinginan itu ditolak oleh sang ayah yang mengatakan bahwa satu hari rakyat akan memilih Ahok untuk memperjuangkan nasib mereka.

Dikenal sebagai keluarga yang dermawan di kampungnya, sang ayah yang dikenal dengan nama Kim Nam, memberikan ilustrasi kepada Ahok. Jika seseorang ingin membagikan uang 1 milyar kepada rakyat masing-masing 500 ribu rupiah, ini hanya akan cukup dibagi untuk 2000 orang. Tetapi jika uang tersebut digunakan untuk berpolitik, bayangkan jumlah uang di APBD yang bisa dikuasai untuk kepentingan rakyat. APBD kabupaten Belitung Timur saja mencapai 200 milyar di tahun 2005.
Bermodal keyakinan bahwa orang miskin jangan lawan orang kaya dan orang kaya jangan lawan pejabat (Kong Hu Cu), keinginan untuk membantu rakyat kecil di kampungnya, dan juga kefrustasian yang mendalam terhadap kesemena-menaan pejabat yang ia alami sendiri, Ahok memutuskan untuk masuk ke politik di tahun 2003.
Pertama-tama ia bergabung dibawah bendera Partai Perhimpunan Indonesia Baru (PPIB) yang saat itu dipimpin oleh Dr. Sjahrir. Pada pemilu 2004 ia mencalonkan diri sebagai anggota legislatif. Dengan keuangan yang sangat terbatas dan model kampanye yang lain dari yang lain, yaitu menolak memberikan uang kepada rakyat, ia terpilih menjadi anggota DPRD Kabupaten Belitung Timur periode 2004-2009.

Selama di DPRD ia berhasil menunjukan integritasnya dengan menolak ikut dalam praktik KKN, menolak mengambil uang SPPD fiktif, dan menjadi dikenal masyarakat karena ia satu-satunya anggota DPRD yang berani secara langsung dan sering bertemu dengan masyarakat untuk mendengar keluhan mereka sementara anggota DPRD lain lebih sering “mangkir”. Setelah 7 bulan menjadi DPRD, muncul banyak dukungan dari rakyat yang mendorong Ahok menjadi bupati. Maju sebagai calon Bupati Belitung Timur di tahun 2005, Ahok mempertahankan cara kampanyenya, yaitu dengan mengajar dan melayani langsung rakyat dengan memberikan nomor telfon genggamnya yang juga adalah nomor yang dipakai untuk berkomunikasi dengan keluarganya. Dengan cara ini ia mampu mengerti dan merasakan langsung situasi dan kebutuhan rakyat. Dengan cara kampanye yang tidak “tradisional” ini, yaitu tanpa politik uang, ia secara mengejutkan berhasil mengantongi suara 37,13 persen dan menjadi Bupati Belitung Timur periode 2005-2010. Padahal Belitung Timur dikenal sebagai daerah basis Masyumi, yang juga adalah kampung dari Yusril Ihza Mahendra.

Bermodalkan pengalamannya sebagai pengusaha dan juga anggota DPRD yang mengerti betul sistem keuangan dan budaya birokrasi yang ada, dalam waktu singkat sebagai Bupati ia mampu melaksanakan pelayanan kesehatan gratis, sekolah gratis sampai tingkat SMA, pengaspalan jalan sampai ke pelosok-pelosok daerah, dan perbaikan pelayanan publik lainya. Prinsipnya sederhana: jika kepala lurus, bawahan tidak berani tidak lurus. Selama menjadi bupati ia dikenal sebagai sosok yang anti sogokan baik di kalangan lawan politik, pengusaha, maupun rakyat kecil. Ia memotong semua biaya pembangunan yang melibatkan kontraktor sampai 20 persen. Dengan demikian ia memiliki banyak kelebihan anggaran untuk memperbaiki kesejahteraan masyarakat.
Kesuksesan ini terdengar ke seluruh Bangka Belitung dan mulailah muncul suara-suara untuk mendorong Ahok maju sebagai Gubernur di tahun 2007. Kesuksesannya di Belitung Timur tercermin dalam pemilihan Gubernur Babel ketika 63 persen pemilih di Belitung Timur memilih Ahok. Namun sayang, karena banyaknya manipulasi dalam proses pemungutan dan penghitungan suara, ia gagal menjadi Gubernur Babel.
Dalam pemilu legislative 2009 ia maju sebagai caleg dari Golkar. Meski awalnya ditempatkan pada nomor urut keempat dalam daftar caleg (padahal di Babel hanya tersedia 3 kursi), ia berhasil mendapatkan suara terbanyak dan memperoleh kursi DPR berkat perubahan sistem pembagian kursi dari nomor urut menjadi suara terbanyak.
Selama di DPR, ia duduk di komisi II. Ia dikenal oleh kawan dan lawan sebagai figur yang apa adanya, vokal, dan mudah diakses oleh masyarakat banyak. Lewat kiprahnya di DPR ia menciptakan standard baru bagi anggota-anggota DPR lain dalam anti-korupsi, transparansi dan profesionalisme. Ia bisa dikatakan sebagai pioner dalam pelaporan aktivitas kerja DPR baik dalam proses pembahasan undang-undang maupun dalam berbagai kunjungan kerja. Semua laporan bisa diakses melalui websitenya. Sementara itu, staf ahlinya bukan hanya sekedar bekerja menyediakan materi undang-undang tetapi juga secara aktif mengumpulkan informasi dan mengadvokasi kebutuhan masyarakat. Saat ini, salah satu hal fundamental yang ia sedang perjuangkan adalah bagaimana memperbaiki sistem rekrutmen kandidat kepala daerah untuk mencegah koruptor masuk dalam persaingan pemilukada dan membuka peluang bagi individu-individu idealis untuk masuk merebut kepemimpinan di daerah.
Ahok berkeyakinan bahwa perubahan di Indonesia bergantung pada apakah individu-individu idealis berani masuk ke politik dan ketika di dalam berani mempertahankan integritasnya. Baginya, di alam demokrasi, yang baik dan yang jahat memiliki peluang yang sama untuk merebut kepemimpinan politik. Jika individu-individu idealis tidak berani masuk, tidak aneh kalau sampai hari ini politik dan birokrasi Indonesia masih sangat korup. Oleh karena itu ia berharap model berpolitik yang ia sudah jalankan bisa dijadikan contoh oleh rekan-rekan idealis lain untuk masuk dan berjuang dalam politik. Sampai hari ini ia masih terus berkeliling bertemu dengan masyarakat untuk menyampaikan pesan ini dan pentingnya memiliki pemimpin yang bersih, transparan, dan profesional.
Di tahun 2006, Ahok dinobatkan oleh Majalah TEMPO sebagai salah satu dari 10 tokoh yang mengubah Indonesia. Di tahun 2007 ia dinobatkan sebagai Tokoh Anti Korupsi dari penyelenggara negara oleh Gerakan Tiga Pilar Kemitraan yang terdiri dari KADIN, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara, dan Masyarakat Transparansi Indonesia. Melihat kiprahnya, kita bisa mengatakan bahwa berpolitik ala Ahok adalah berpolitik atas dasar nilai pelayanan, ketulusan, kejujuran, dan pengorbanan; bukan politik instan yang sarat pencitraan.
IKAN SALMON DARI BANGKA BELITUNG

lazimnyanya bila seseorang berkampanye menghambur-hamburkan uang dengan berbagai spanduk dan membagikan sembako serta uang, ia melakukan cara berbeda dengan hanya kartu nama yang dibagi-bagikan kepada penduduk yang tertera no Handphone dan dapat diakses. Cara berpikirnya yang sederhana bahwa keinginan masyarakat itu tidak muluk-muluk. Masyarakat ingin mendapatkan pendidikan,maka pemerintah menyediakan fasilitas, saat masyarakat mengurus identitasnya maka pemerintahnya mempermudah akses mereka, disaat masyarakat membutuhkan pelayanan kesehatan,maka pemerintah wajib membantu untuk mendapatkan hak mereka,oleh karena itu makanya yang dibutuhkan penduduk no Handpone pejabat,gunanya apabila mereka tidak dilayani atau dipersulit maka pejabat yang bersangkutan akan menelp bawahannya untuk membantu masyarakat yang mengalami kendala tersebut. Strategi sederhana ini terbukti, Ahok mendapatkan 37 persen suara di Bangka Belitung timur dan menghantarkannya menjadi Bupati Pertama berasal dari etnis Tionghoa.
Gaya kepemimpinan Ahok selama menjadi Bupati Bangka Belitung Timur sangat berbeda dengan Bupati pada umumnya,ia menginstruksikan kepada kelapa SKPD agar mengaktifkan telpon seluler mereka 24 jam,andaikan jika ada yang keberatan dengan Instruksi ini maka Ahok memberikan jabatan tersebut kepada yang menyanggupi. Tujuannya agar masyarakat jika dalam kesusahan bias menghubungi sang pejabat 24 jam dan tujuh hari dalam seminggu,Sehingga masyarakat mendapat pelayanan yang maksimal.

Ahok hampir sering terlihat di rumah-rumah penduduk,warung dan persawahan,Ahok tipe orang yang tidak betah dikantor dan hampir saban hari ia melihat langsung kelapangan kondisi masyarakat yang dipimpinnya,juga kinerja para bawahannya sehingga aspirasi masyarakat dapat diserap secara langsung dan memantau jalannya pembangunan. Selama menjadi Bupati Rumah Dinasnya selalu ramai dikunjungi oleh penduduk yang ingin menyampaikan isi hati mereka atau hanya sekedar menyampaikan unek-unek mereka, dan penduduk yang bertamu tersebut mendapat pelayanan sama dengan para penjabat yang berkunjung ke rumah dinas Bupati. Awalnya masyarakat ragu karena melihat minuman kaleng dan roti-roti yang jarang mereka lihat,setelah saya yakinkan bahwa “makanan dan minuman ini juga milik bapak ibu, karena makanan dan minuman ini dibeli dari pajak masyarakat” . cerita Ahok ketika tampil di Kick Andy.

Selama menjadi Bupati ,hubungan Ahok dengan DPRD setenpat sempat buruk karena Ahok menginginkan masyarakat BAbeltim bebasa dari biaya pendidikan dan kesehatan,namuan dalam Pembahasan APBD,DPRD tidak setuju dengan mengancam tidak akan menandatangani. Mendengar ucapana tersebut Ahok menjawab dengan santai,”silahkan saya akan menggunakan anggaran tahun lampau yang masih tersisa,jika anda tidak mau menyetujui maka kita sama-sama tidak menerima gaji”. Akhirnya DPRD nyerah dan bersedia menemuinya.
Ketika menjadi Anggota DPRRi sikap kritis dan idealisnya masih tetap terjaga,sehingga keuangannya tertera di blog pribadi Ahok.,dan ia juga pernah menceritakan kepada public bagaimana modus wakil rakya tilap uang kungker yang disampaikanya dalam diskusi “satu tahun ber DPR”pada tahun 2010. Ia menceritakan ketika ikut rombongan berkunjung ke maroko,rupanya dalam perjalanan itu juga ada acra ke Spanyol,dan ia merasa perjalanan ke Spanyol bukan lagi agenda kerja sama bilateral. Mestinya acara tersebut sudah selesai dan Ahok memilih untuk pulang ke Tanah air sedangkan sebagian lagi terbang ke Spanyol,namun agenda Anggota DPR yang ke Spanyol tersebut laporan tertulisnya masih dalam kunjungan ke Maroko sehingga masih nerima uang saku dan akomodasi. Sikap yang bertentangan dengan perangai Politisi pada umumnya ini membuat Ahok sering dikucilkan dalam pergaulan senayan,karena Ahok tidak dapat diajak berkompromi jika sudah berhubungan berhubungan dunia Pragmatisnya apalagi menyangkut KKN.

Akhir 2011 yang lalu ia sibuk bersosialisasi kepada masyarakat Jakarta untuk ikut bertarung pada Pilkada beberapa hari yang lalu.harapan itu hamper ketika tidak mendapat dukungan Partai (Golkar) yang menaunginya, Ahok tidak serta merta patuh atas keinginan partai,ia mengundurkan diri dari DPR dan Golkar untuk menerima tawaran menjadi calon Wakilnya Jokowi dan ia berhasil memenangkan Pilgub DKI mengalahkan Incumbent Fauzi Bowo (rilis quick count).

Ahok merupakan fenomena baru dalam blantika perpolitikan Indonesia,jiwa petarung dan selalu menghadapi resiko membuat watna baru Politisi tanah air. Dalam pandanganya bahwa “ikan yang mengikuti Arus itu adalah ikan mati,sedangkan ikan Salmon yang mahal selalu meloncat dan terbang dalam menantang arus”. Ikan Salmon tersebut hidup ditengah HIu ganas dilautan.

Ditengah politisi Indonesia yang pragmatsi dan cendrung korup,masih ada secuil harapan akan perubahan menuju arah perbaikan moral para politisi,dan Ahok sudah membuka jalan kea rah tersebut,mungkin tidak lama lagi gaya dan sikap Ahok ditiru oleh para politisi muda di Tanah air sehingga memutus rantai Koruptor yang bergelantungan di tubuh sebagian besar politisi. Semoga Ahok menjadi cikal bakal lahirnya Politisi bersih,jujur dan kerja keras untuk kesejahteraan rakyat di Indonesia

0 komentar:

Poskan Komentar